RoTIFreSh Nov’09: Online & Social Games
RoTIFreSh (Return of Tuker Ilmu Freedom of Sharing) edisi II akhirnya digelar hari Sabtu malam lalu di Ruang Prambanan-Hotel Santika Premiere , Semarang dengan tema Online & Social Games. Sebetulnya Sofyan sudah berbagi dipostingan sebelumnya kenapa social games menjadi hal yang menarik untuk diangkat dalam tema sharing RoTIFreSh kali ini. Salah satunya karena orang Indonesia banyak yang menggunakan permainan didalam jaringan sosial yang mereka gunakan seperti Facebook. Entah kenapa di penyelenggaraan yang II inipun Kota Semarang diguyur hujan, mungkin RoTIFreSh semarang akrab dengan yang namanya hujan.


RoTIFreSh kali ini dibuka oleh Wiwik yang merefresh kembali apa sih RoTIFreSh itu karena cukup banyak peserta yang hadir pada hari itu. O iya kelihatannya RoTIFreSh sudah mempunyai dua MC handal yang cukup kocak dan garing untuk perhelatan RoTIFreSh berikutnya.
Sesi I dibuka oleh Sofyan yang memperkenalkan mengenai dunia Social Games. Ada fakta-fakta yang menarik disampaikan oleh Sofyan mengenai social games seperti social games yang menggunakan media online sebagai media penyebarannya mempunyai pertumbuhan yang exponensial tidak linier, seperti FishVille yang dalam waktu 11 hari saja sudah dimainkan oleh hampir (atau lebih) 10 juta pengguna. Cukup luar biasa.
Fakta menarik yang berikutnya adalah tabel yang menunjukkan pendapatan game online disaat krisis tetap naik walau industri lain menurun. Ini menjadi potensi yang menjanjikan jika kamu seorang game developer. Dari mana sih sumber pendapatan games itu sendiri? Bisa didapatkan dari pembayaran dari pengguna (user payment) dan pembelian barang-barang virtual (virtual goods), biaya berlangganan (subscriptions), iklan/sponsor maupun Investor. Dari sisi investor masih cukup sulit untuk didapatkan di Indonesia karena mereka belum mengganggap industri ini menjadi industri yang menjanjikan.

RoTIFreSh kali ini diselingi oleh sharing Pak Basuki, seorang tunanetra pengguna internet dari Komunitas Sahabat Mata yang membagi pengalaman beliau selama menjadi tunanetra yang aktif untuk berkegiatan seperti manusia normal lainnya. Beliau berbagi bahwa ternyata hambatan yang datang untuk seorang tunanetra ternyata bukan dari diri mereka tetapi dari orang-orang disekitar mereka yang sering menyepelekan mereka atau terlalu melindungi penderita tunanetra. Padahal seorang tunanetrapun bisa berkarya seperti teman-teman lain yang tidak mempunyai kekurangan dalam hal fisik.
Saya pikir malam itu peserta RoTIFreSh cukup tersihir dengan pengalaman-pengalaman Pak Basuki selain karena beliau mempunyai rasa humor yang tinggi. Apalagi ketika beliau berbagi mengenai hasil karya seseorang yang buta dan lumpuh dan mampu menghasilkan sesuatu yang bahkan sulit untuk dilakukan teman-teman yang mempunyai badan normal sekalipun.

Sesi berikutnya dibawakan oleh Panggah, Budi dan Uut sebagai seorang gamer profesional. Mereka berbagi mengenai potensi dari profesi yang mereka lakukan menjadi gamer profesional beserta resikonya. Mereka berbagi juga mengani suka dan duka menjadi seorang gamer diantaranya profesi ini yang sering dianggap profesi yang tidak serius karena hanya menjadi seorang gamer ataupun resiko tertipu pembeli dalam transaksi-transaksi online.
Sukanya hasil dari profesi ini akhirnya mereka bisa membuka usaha sendiri walau masih dalam bidang profesi yang mereka jalani seperti sebuah game center.

Terima kasih untuk semua pendukung acara RoTIFreSh kali ini: Telkom Divre IV, Jawa tengah dan Hotel Santika Premiere, Semarang sehingga acara kali ini dapat berjalan baik dan peserta mendapatkan ilmu tambahan secara cuma-cuma. terima kasih pula untuk semua peserta yang telah meramaikan RoTIFreSh kali ini.
Sampai jumpa bulan depan dan Let’s Play Game Not War!


Semoga acara RoTIFreSh berikutnya lebih semarak lagi.
@el_afiq: aminnnnn
acaranya paling keren pokoknya….