19 October 2009 ~ 3 Comments

Keluar dari arus mainstream

Salah satu tantangan terbesar bagi para pekerja freelance adalah bagaimana cara menentukan posisi dan kemudian keluar dari persaingan yang makin ketat. Keluar dari persaingan bukan berarti keluar dari bisnis. Buku Blue Ocean Strategy saya kira cukup mewakili apa yang saya maksud, yaitu kita selalu di tuntut untuk berpikir kreatif dan tidak ragu untuk menciptakan inovasi baru yang mungkin luput dari perhatian.

Berusaha memenangkan persaingan diantara freelancer memang penting, tapi menurut saya hal itu akan semakin sulit diwujudkan. Bukan rahasia, persaingan antar freelancer dibidang yang sama makin hari makin ketat. Tiap hari, ratusan atau bahkan ribuan freelancer baru terus bermunculan. Itulah konsekuensi yang harus kita hadapi. Selalu bersaing satu sama lain dalam perlombaan untuk menjadi pemenang. Dan kenyataannya, persaingan makin tahun makin ketat. Memenangi setiap kompetisi dan persaingan menjadi semakin susah.

Pernahkan Anda membayangakan bahwa suatu saat, persaingan mencapai titik jenuh. Semua orang menawarkan layanan yang sama atau mirip. Dalam kondisi seperti ini, siapakah yang diuntungkan? Satu jawaban pasti yang bisa saya kemukakan adalah freelancer dalam kondisi yang terancam. Posisi tawar menjadi rendah mengingat banyaknya pemain di area yang sama. Rawan menimbulkan praktek dan persaingan bisnis yang tidak sehat. Di sisi lain, Buyer semakin diuntungkan karena mempunyai banyak alternatif pilihan dan posisi tawar yang semakin tinggi. Akibatnya, antar freelancer saling sikut dan kalau perlu saling mematikan untuk memenangkan sebuah persaingan.

Dalam buku Blue Ocean Strategy secara jelas dipaparkan bahwa bersaing di Red Ocean dengan persaingan yang berdarah-darah sangat tidak mengutungkan, bahkan untuk perusahaan mulinasional sekalipun. Setiap pihak harus mengeluarkan pengorbanan lebih besar untuk memenangkan persaingan. Oleh karena itu, idealnya para freelancer harus bisa mulai berpikir dan bergerak berpindah dari Red Ocean menuju area Blue Ocean, di mana persaingan menjadi tidak relevan karena kondisi pasar yang belum jenuh atau bahkan masih baru.

Tidak mengikuti arus mainstream tidak secara otomatis menjadikan kita sebagai pengecut yang lari dari persaingan. Dengan tidak mengikuti arus mainstream memungkinkan kita berpikir lebih jernih, tampil beda dan menonjol serta punya posisi tawar yang lebih baik. Dan pada akhirnya akan menjadikan kita sebagai pembuka jalan sekaligus sumber inspirasi bagi yang lain.

Google, Youtube, Paypal, Ebay, Rapidshare, Wikipedia, Yelp, Facebook dan masih banyak contoh lain telah membuktikan bahwa tidak bermain di arus mainstream adalah pilihan tepat. Paling tidak hingga saat ini. Bagaimana dengan Anda? Sudah siapkah Anda mengarungi samudera baru?

3 Responses to “Keluar dari arus mainstream”

  1. hirmag 27 October 2009 at 12:30 am Permalink

    Dear friend, trus apa saja yg sudah termasuk dalam red ocean dan dimana pintu blue oceannya, bisa kasih gambarannya friends trims

    sarapan pagiku ROTI apalagi yg Fresh ok ok

  2. sofyanr 16 November 2009 at 3:27 am Permalink

    Salah satu contoh yang cukup jelas adalah industri media, persaingan sangat ketat. Untuk bisa mempengaruhi pasar, di butuhkan modal dan pengorbanan yang sangat besar. Sementara hambatan untuk masuk ke area tersebut juga semakin besar. Sama halnya dengan industri telekomunikasi secara global. Untuk meningkatkan laba 2X lipat dibutuhkan modal dan pengorbanan puluhan bahkan ratusan kali lipat.


Leave a Reply

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes